Kripto · Breaking News

Bitcoin Anjlok ke $73.000: Serangan AS di Iran Hapus $958 Juta Posisi Kripto dalam 24 Jam

Bitcoin jatuh ke $72.912 pada 28 Mei 2026 setelah AS melancarkan serangan udara di Iran dekat Selat Hormuz. Hampir $1 miliar posisi kripto terhapus dalam 24 jam — 93% dari posisi long. Ethereum kehilangan level $2.000, minyak melonjak di atas $107. Begini kronologinya.

Dipublikasikan: 28 Mei 2026 Waktu baca: ~5 menit Kategori: Kripto, Bitcoin, Geopolitik

Ringkasan Cepat

Pagi hari 28 Mei 2026, Bitcoin jatuh ke $72.912 — terendah dalam beberapa minggu terakhir — menyusul pengumuman bahwa AS melancarkan serangan udara di fasilitas militer Iran dekat Selat Hormuz. Dalam 24 jam, hampir $1 miliar posisi kripto terhapus oleh gelombang likuidasi paksa, dengan 93% berasal dari posisi long yang tiba-tiba berbalik arah.

Ethereum ikut terseret ke bawah level psikologis $2.000, minyak melonjak di atas $107 per barel, dan indeks Fear & Greed kripto memasuki zona ketakutan. Gencatan senjata yang sempat menenangkan pasar selama 60 hari mendadak tak bermakna.

Total likuidasi 24 jam

$958 jt

167.706 trader terdampak

Posisi long terhapus

93%

$897 juta dari total likuidasi

Likuidasi Bitcoin

$386 jt

Terbesar di antara semua aset

Harga minyak

$107+

Naik akibat ancaman Selat Hormuz

Gencatan Senjata yang Hancur dalam Semalam

Untuk memahami mengapa pasar bereaksi begitu keras, perlu dilihat latar belakangnya. Selama 60 hari sebelum kejadian ini, pasar global sempat bernapas lega karena AS dan Iran menjalankan gencatan senjata yang relatif tenang. Ekspektasi bahwa ketegangan militer di kawasan Timur Tengah akan mereda mendorong Bitcoin naik ke kisaran $80.000-an pada pertengahan Mei 2026.

Kemudian, dalam beberapa jam di dini hari 28 Mei, skenario itu terbalik sepenuhnya:

  • US CENTCOM melancarkan serangan udara di fasilitas militer Iran yang berlokasi dekat Selat Hormuz — jalur pelayaran strategis tempat sekitar 20% pasokan minyak dunia melintas setiap harinya.
  • Empat drone serang Iran ditembak jatuh setelah ditembakkan ke arah kapal komersial di perairan tersebut. Sebuah pangkalan udara AS dilaporkan menjadi sasaran serangan Iran, sementara Kuwait mengkonfirmasi mereka mencegat ancaman udara di wilayahnya.
  • US Treasury menjatuhkan sanksi baru terhadap Otoritas Selat Persia Teluk Iran, menuduh lembaga itu memeras kapal-kapal yang melintas di selat tersebut.
  • Iran secara resmi mengancam akan membalas, dan optimisme gencatan senjata yang sudah terbentuk selama dua bulan runtuh dalam hitungan jam.

Pasar saham Asia langsung merespons: indeks regional turun 1,7%, MSCI All Country World Index mundur 0,4% dari rekor tertingginya, dan futures S&P 500 serta Nasdaq 100 membuka sesi dalam zona merah. Di pasar komoditas, minyak justru naik karena ancaman terhadap Selat Hormuz selalu ditafsirkan sebagai gangguan pasokan global.

Kripto, sebagai aset berisiko tinggi, menanggung tekanan paling berat.

Banjir Likuidasi: $958 Juta Terhapus dalam 24 Jam

Data dari CoinGlass mencatat total $958,8 juta posisi derivatif kripto terhapus dalam 24 jam, melibatkan 167.706 trader. Ini bukan sekadar penurunan harga biasa — ini adalah pembersihan leverage yang masif dan cepat.

Komposisi Likuidasi

$897 juta (93%) — Posisi long (bullish) yang terhapus
$61 juta (7%) — Posisi short (bearish)
$386 juta — Khusus dari Bitcoin
$246 juta — Khusus dari Ethereum
$15,34 juta — Likuidasi tunggal terbesar: posisi BTC di Hyperliquid

Dominasi likuidasi long (93%) menunjukkan bahwa sebagian besar trader yang terdampak adalah mereka yang memasang posisi bullish selama periode konsolidasi pertengahan Mei — dan tiba-tiba mendapati pasar bergerak berlawanan arah secara tajam. Seorang analis pasar menyebut situasi ini sebagai:

"Leverage yang terakumulasi selama range pertengahan Mei semuanya dibersihkan dalam satu sesi perdagangan."

Fenomena ini dikenal sebagai long squeeze — ketika harga turun cukup jauh untuk memaksa broker melikuidasi posisi long secara otomatis, yang justru mendorong harga turun lebih dalam lagi, menciptakan efek domino. Selama periode volatilitas geopolitik, efek ini bisa sangat merusak karena tidak ada "pembeli of last resort" yang memotong kejatuhan.

Semua Aset Ambruk — Kecuali Satu

Penurunan pada 28 Mei bersifat menyeluruh — nyaris tidak ada sudut pasar kripto yang lolos dari tekanan jual. Berikut kondisi harga selama sesi Asia:

Aset Harga Perubahan 24 Jam Perubahan 7 Hari
Bitcoin (BTC) $72.978 −3,4% −6,3%
Ethereum (ETH) $1.976 −4,2% −7,7%
Solana (SOL) $80,57 −3,5% −negatif
XRP $1,28 −3,6% −negatif
Dogecoin (DOGE) $0,0979 −3,2% −negatif
Hyperliquid (HYPE) Tidak dipublikasi −4,5% +2,4% ✓

Satu pengecualian menarik: Hyperliquid (HYPE). Meski turun 4,5% dalam sehari, HYPE justru menjadi satu-satunya aset besar yang masih mencatat kenaikan mingguan (+2,4%). Ini menarik karena Hyperliquid adalah platform derivatif on-chain — dan justru menjadi tempat di mana likuidasi terbesar hari itu ($15,34 juta) terjadi. Paradoks ini mencerminkan bahwa volume aktivitas tinggi (bahkan likuidasi massal) bisa berdampak positif pada token platform itu sendiri.

Total kapitalisasi pasar kripto turun 3,3% ke $2,53 triliun — menghapus ratusan miliar dolar valuasi dalam hitungan jam.

ETF Bitcoin Terus Bocor — $733 Juta dalam Sehari

Penurunan harga ini tidak terjadi dalam vakum. Hari sebelum serangan Iran (Rabu, 27 Mei), spot Bitcoin ETF sudah mengalami aliran keluar sebesar $733 juta dalam satu hari — salah satu yang terbesar sepanjang bulan. Secara kumulatif sepanjang Mei 2026, total aliran keluar Bitcoin ETF melampaui $2 miliar.

Kondisi Ethereum bahkan lebih buruk: ETF ether mencatat aliran keluar selama 11 hari berturut-turut tanpa jeda. Kombinasi antara aliran keluar institusional yang berkelanjutan dan syok geopolitik yang tiba-tiba menciptakan kondisi pasar yang sangat rentan terhadap liquidation cascade.

Mengapa ETF Outflow Memperparah Crash

Ketika institusi menarik dana dari ETF, pengelola ETF harus menjual Bitcoin di pasar spot untuk memenuhi permintaan redemption. Penjualan ini menekan harga, yang lalu memicu lebih banyak redemption — menciptakan loop umpan balik negatif. Fenomena ini berbeda dari siklus sebelumnya di mana tidak ada produk ETF besar yang aktif beroperasi.

Konteks: Bitcoin Sudah 42% di Bawah All-Time High $126.000

Penting untuk menempatkan penurunan ke $73.000 ini dalam konteks yang lebih besar. Bitcoin mencetak all-time high (ATH) sebesar $126.080 pada Oktober 2025 — sebuah puncak yang waktu itu dipicu oleh ekspektasi regulasi ramah era Trump dan masuknya dana institusional besar-besaran lewat ETF.

Sejak ATH itu, Bitcoin telah turun sekitar 42%. Ini bukan penurunan pertama yang signifikan: pada Februari 2026, Bitcoin sempat menyentuh $72.000-an untuk pertama kali akibat kombinasi shutdown pemerintah AS, tarif Trump, dan kekhawatiran resesi. Pemulihan terjadi, tapi belum pernah kembali mendekati level $100.000.

Level $73.000 kini memiliki bobot psikologis ganda: ia adalah area di mana Bitcoin pernah "jatuh" sebelumnya pada Februari, dan sekarang menjadi medan pertempuran kembali. Trader yang menggunakan analisis teknikal melihat ini sebagai zona support kritis yang harus dipertahankan agar pasar tidak jatuh ke level lebih rendah.

Apa Kata Pasar Prediksi?

Di tengah kegelapan grafik merah, platform prediksi pasar seperti Polymarket menawarkan sinyal yang lebih nuansif tentang bagaimana trader memandang situasi ini. Data dari pasar prediksi pada 28 Mei 2026 menunjukkan gambaran yang menarik:

  • Bitcoin di atas $70.000 pada 29 Mei 2026: 94,4% YES — artinya mayoritas besar trader meyakini BTC tidak akan jatuh lebih jauh ke bawah $70K dalam 24 jam ke depan. Ini turun dari 98% sehari sebelumnya, menunjukkan peningkatan ketidakpastian.
  • Bitcoin mencetak ATH baru sebelum 31 Desember 2026: hanya 14,5% — turun drastis dari level-level sebelumnya. Pasar prediksi kini sangat skeptis bahwa pemulihan ke $126.000 bisa terjadi dalam sisa tahun ini.
  • AS menginvasi Iran: 24% odds — cukup signifikan untuk membuat pasar khawatir, tapi masih bukan skenario utama yang diantisipasi.
  • Selat Hormuz kembali normal: 58% odds — mayoritas tipis masih percaya jalur pelayaran akan kembali kondusif, tapi margin kepercayaan ini menyempit.

Pola menarik terlihat di sini: meskipun Bitcoin jatuh tajam intraday, pasar prediksi tidak memprediksi kehancuran total. Odds BTC di atas $70K esok hari masih 94%+, mencerminkan ekspektasi bahwa ini adalah shock jangka pendek, bukan awal bear market baru yang panjang.

Bagi trader yang ingin memantau sentimen pasar secara real-time, pasar prediksi sering kali menjadi indikator leading yang lebih cepat bereaksi dibanding harga spot. Ketika odds "Bitcoin di atas $70K" mulai turun drastis, itu bisa jadi sinyal bahwa tekanan jual belum selesai.

Pantau semua pasar prediksi Bitcoin dan kripto langsung di PasarPoli — tersedia dalam antarmuka berbahasa Indonesia dengan probabilitas dan volume perdagangan real-time dari Polymarket.

Level Kritis yang Perlu Dipantau

Dari perspektif analisis teknikal dan data on-chain, beberapa level harga Bitcoin menjadi sorotan para analis dalam situasi ini:

  • $72.912 — Low 28 Mei: Level terendah yang baru saja dibentuk. Jika ini tembus ke bawah secara decisif, level berikutnya yang diperhatikan adalah area Februari 2026 yakni sekitar $72.000.
  • $70.000 — Support psikologis: Level bulat yang memiliki bobot besar di mata ritel dan institusional. Pasar prediksi menetapkan odds 94%+ Bitcoin bertahan di atas level ini untuk 24 jam ke depan.
  • 200-week Moving Average (~$58.000): Galaxy Digital's Alex Thorn sebelumnya menyebut level ini sebagai target potensial jika tekanan jual terus berlanjut — sebuah skenario yang pasar prediksi masih nilai kecil kemungkinannya dalam jangka pendek.
  • $80.000 — Resistance di atas: Area ini menjadi "tembok" yang perlu ditembus kembali agar momentum pemulihan terbangun. Selama Mei, BTC berkali-kali gagal menutup di atas level ini.

Variabel yang Perlu Diperhatikan

Perkembangan diplomatik AS-Iran dalam 48-72 jam ke depan kemungkinan besar akan menjadi penentu utama arah harga jangka pendek. Jika tensi mereda dan ada sinyal de-eskalasi, pasar berpotensi rebound cepat. Sebaliknya, eskalasi lebih lanjut — terutama gangguan nyata terhadap lalu lintas Selat Hormuz — bisa memperpanjang fase tekanan ini.

Kesimpulan

Apa yang terjadi pada 28 Mei 2026 adalah pengingat keras tentang seberapa sensitif pasar kripto terhadap syok geopolitik — terutama ketika pasar sudah "penuh leverage" dari akumulasi posisi bullish selama fase konsolidasi.

Hampir $1 miliar posisi terhapus dalam satu sesi. Bitcoin jatuh ke level yang terakhir dikunjungi saat krisis Februari. Ethereum kehilangan batas psikologis $2.000. Dan minyak — sang indikator klasik ketidakstabilan Timur Tengah — melonjak di atas $107.

Yang menarik adalah respons pasar prediksi: meski panik intraday terlihat jelas, trader masih meyakini Bitcoin tidak akan runtuh ke bawah $70.000 dalam 24 jam. Ini membedakan situasi ini dari kepanikan sistemik — lebih terlihat sebagai deleveraging reaktif, bukan capitulation massal.

Bagi trader di pasar kripto, pelajaran utamanya sederhana: ketika leverage tinggi bertemu berita geopolitik buruk, bahkan penurunan 3% bisa memicu efek berantai yang berakhir dengan ratusan juta dolar posisi terhapus dalam hitungan jam. Manajemen risiko bukan pilihan — ini keharusan.

Ikuti perkembangan harga Bitcoin dan pasar prediksi terkait secara real-time di PasarPoli.